Setelah Tidak dipakai, bagaimana nasib barang elektronik bekas?

Tangan kanan Lia Partakusuma menggenggam komputer tablet usang, sedangkan tangan kirinya memegang papan sirkuit bekas. Oleh perempuan itu, kedua barang tersebut dimasukkan ke sebuah kotak bertuliskan ‘e-waste’ atau limbah elektronik.

Selama 10 hari pada Februari lalu, Lia yang menjabat direkur penunjang Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Jakarta menempatkan kotak-kotak serupa di sekeliling rumah sakit.

  • Memutus siklus sampah di gunung dan taman nasional Indonesia
  • Bisakah kita mengubah sampah jadi energi listrik?
  • Membayar listrik dan pulsa dengan sampah lewat Bank Sampah

Hasilnya, limbah elektronik seberat 400 kilogram berhasil dikumpulkan. Lia, yang juga seorang dokter, berinisiatif mengumpulkan limbah tersebut lantaran paham akan dampak yang ditimbulkan.

“Dalam elektronik itu kandungannya bermacam-macam, terutama yang berbahaya bagi lingkungan adalah logam-logam berat. Bagi manusia, bisa menyebabkan anemia, keracunan pada ginjal, dan kanker,” kata Lia.

Selama ini limbah elektronik berupa ponsel rusak, komputer usang, baterai dan lampu neon bekas pakai teronggok begitu saja di sudut-sudut rumah penggunanya. Kalaupun dibuang, penanganannya tidak bisa dijamin aman terhadap lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, menyadari hal itu. Oleh karenanya, sejak pertengahan Maret lalu, dia menginstruksikan bawahannya untuk mengumpulkan telepon seluler bekas dari masyarakat agar dikirim ke pusat pengolahan limbah.

“Di era 10 tahun terakhir perkembangan ponsel sangat pesat. Saya berasumsi satu orang dalam 10 tahun terakhir ini sudah berganti ponsel dua hingga tiga kali. Dan itu menumpuk di rumah tanpa kita sadari. Padahal, itu bahan beracun,” kata Isnawa.

Meski demikian, pada tahap awal ini, Isnawa Adji mengaku belum bisa mengganti ponsel bekas yang dikumpulkan warga dengan uang.

“Di Jepang, warga yang akan membuang limbah elektronik justru di-charge. Di sini, masyarakat bisa menyerahkan limbahnya saja sudah bagus. Kita belum bisa mengganti ataupun mengenakan charge kepada mereka yang membuang limbah elektronik. Kita harapkan nantinya ke depan sudah mulai ada perlakuan yang sama terhadap limbah elektronik. Sekarang setidaknya kami bisa mengurangi limbah elektronik, mulai dari yang kecil dulu,” papar Isnawa.

Bagaimana nasib limbah elektronik?

Setelah dikumpulkan, lalu dibawa ke mana limbah elektronik itu?

Selama ini masyarakat awam membuangnya begitu saja di tempat sampah. Namun, Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI)—sebuah perusahaan seluas 56 hektare di Nambo, Jawa Barat—selama ini khusus menangani limbah beracun seperti itu.

Saat berkunjung ke sana beberapa pekan lalu, tampak beberapa orang petugas membongkar dan mempreteli tumpukan komputer usang.

“Kami mengambil besi, aluminium, tembaga. Bahkan, dari papan elektronik komputer, ada emasnya—meskipun jumlahnya sangat kecil. Mengapa ini didaur ulang juga karena timbunan di landfill berkurang. Jangan semua ditimbun di landfill,” kata Khairul Alfi, manajer operasi PPLI.

 

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *