Tumpukan Sampah Elektronik, Bagaikan Madu atau Racun?

Dulu, di sinilah sebagian sampah elektronik dari pelbagai negara di dunia berakhir: mati dan dipereteli hingga komponen terkecil. Dulu, di sini ada ribuan orang yang setiap hari bekerja di antara timbunan sampah elektronik, menghirup rupa-rupa material berbahaya dan beracun. Inilah Guiyu, wilayah di Provinsi Guangdong, China, yang pernah menyandang gelar ‘tempat pembuangan sampah elektronik terbesar di dunia’.

Hingga tiga-empat tahun lalu, pemandangan orang-orang duduk berjejer di sepanjang jalan, dengan cekatan melepas rupa-rupa komponen dan sirkuit elektronik dari televisi, monitor, komputer, sampai barang-barang kecil, seperti ponsel, sudah jadi hal sangat biasa. Mereka berpacu dengan berkontainer-kontainer sampah elektronik yang terus berdatangan ke Guiyu.

Empat tahun lalu, wartawan CNN datang ke Guiyu. Di sebuah gudang, seorang pekerja mengaduk kepingan-kepingan plastik yang direndam dengan larutan kimia dengan bertelanjang tangan, seolah-olah hanya tengah mengaduk larutan gula. “Kami menjual plastik ini ke Foxconn,” dia menyebut raksasa elektronik dari Taiwan. Mereka bukannya tak paham betapa berbahayanya penanganan sampah elektronik dengan cara serampangan seperti itu.

“Tentu saja cara-cara seperti ini tak sehat,” ujar seorang perempuan, dikutip CNN, kala itu. Sembari bercakap-cakap, tangannya terus bekerja. Untuk mengenali jenis material di depannya, mereka membakar plastik dengan korek. Tentu saja ada sebagian asap beracun itu yang terisap. “Tapi ada banyak keluarga yang tinggal di sini selama beberapa generasi dan hampir tak tampak pengaruhnya terhadap kesehatan mereka.”

Mereka tak sadar, ada bencana yang merayap menghampiri hidup mereka. Pada 2014, tim dari Sekolah Kedokteran Universitas Shantou meneliti pengaruh ‘industri’ sampah elektronik terhadap anak-anak Guiyu. Hasilnya bikin miris. Peneliti Universitas Shantou menemukan kandungan timbal jauh di atas normal dalam darah anak-anak Guiyu. Timbal dalam darah bisa merusak banyak organ dalam tubuh, tapi otaklah yang paling sensitif terhadap efek timbal.

Bertahun-tahun menimbun sampah elektronik, pencemaran di Guiyu sudah merembet ke mana-mana. Seorang petani pendatang di Guiyu mengatakan dia tak berani minum air dari sumur Guiyu. Mereka tak cuma takut minum air sumur. “Mungkin ini terdengar kurang enak, tapi kami sendiri tak berani makan beras dari sawah yang kami tanami,” kata Zhou. Menurut dia, semua beras yang dia dan teman-temannya hasilkan diborong tengkulak dan dijual ke luar daerah. “Dan mereka tak akan bilang bahwa berasnya berasal dari Guiyu…. Mereka akan menuliskan bahwa beras itu dari daerah lain.”

Semua itu berubah pada 2015. Pemerintah Provinsi Guangdong memberi tenggat 1 Desember 2015 agar semua industri rumah tangga pengolahan limbah elektronik di Guiyu pindah ke kawasan industri. Mereka yang membandel harus siap-siap terima hukuman. Di tempat baru, pemerintah Provinsi Guangdong memberikan fasilitas yang lebih ramah lingkungan dan lebih bersih. Sejak saat itu pemerintah Guangdong menerapkan pengawasan ketat terhadap arus impor ilegal sampah elektronik yang masuk Guiyu.

Sekarang Guiyu sudah bersih dari industri rumah tangga pengolah sampah elektronik. Lingkungan di kota kecil itu juga sudah jauh lebih ramah terhadap penghuninya. Tapi semua itu ada ongkosnya. Perputaran duit dalam bisnis pengolahan sampah elektronik yang dikumpulkan dalam kawasan industri terus menyusut.

Dulu, Chen Xinrong punya enam karyawan, tapi sejak pindah ke kawasan industri, karyawannya tinggal dua. Sampah elektronik yang mereka tangani setiap bulan juga jauh berkurang. Tapi Chen tak menyesal. Dia ikut senang kotanya kini lebih nyaman. “Buat apa punya banyak uang jika kalian tinggal di lingkungan yang mengerikan,” kata Chen kepada South China Morning Post tiga bulan lalu.

Jika bisa membuat ekosistem dan teknologi yang tepat, kami bisa membangun bisnis yang besar.”

Rohan Gupta, pengusaha pengolahan sampah elektronik di India

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Jepang merupakan negara-negara penghasil sampah elektronik terbesar di dunia di luar China, India, Brasil, Rusia, dan Indonesia. Semua negara maju ini punya aturan lengkap soal pengelolaan sampah elektronik.

Tapi ada satu fakta yang kurang sedap soal pengelolaan sampah elektronik di negara maju. Zhaohua Wang dan Bin Zhang, peneliti dari Beijing Institute of Technology, menulis di jurnal Nature, hanya sebagian kecil dari sampah elektronik yang dihasilkan penduduk negara-negara maju itu yang diolah di dalam negerinya. Sebagian besar sampah elektronik mereka ‘diekspor’ ke negara-negara berkembang, seperti China, India, Nigeria, Ghana, dan Paraguay.

Negara-negara berkembang ini biasanya relatif longgar dalam soal keluar-masuk sampah elektronik. China dan India punya aturan soal sampah elektronik, tapi menurut Zhaohua Wang, penegakan hukumnya tak seberapa ketat. Di China—negara ini merupakan penghasil sampah elektronik sekaligus pengolah limbah elektronik terbesar di dunia—India, Ghana, dan Nigeria, sampah-sampah itu menghasilkan uang dan lapangan kerja.

Makin sering orang berganti ponsel, makin singkat orang memakai baterai cadangan, makin banyak pula sampah elektronik terbuang. Di Agbogbloshie, permukiman kumuh di jantung Kota Accra, Ghana, ada ribuan orang yang menggantungkan hidup dari mengolah sampah elektronik. Demikian pula di kampung-kampung kumuh di Delhi, Kolkata, dan Mumbai, India.

Dua tahun lalu, Al-Jazeera membuat liputan panjang soal Agbogbloshie. Dalam artikel bertajuk ‘E-waste Republic’ itu, Al-Jazeera menyoroti alur sampah dan barang elektronik bekas dari negara-negara maju hingga sampai Agbogbloshie. Duit berputar, tapi juga berbare

Pemandangan yang dulu hijau sekarang berubah menjadi ladang timbunan sampah elektronik,” ujar Mike Anane, aktivis lingkungan di Accra. Bau plastik terbakar dan rupa-rupa bahan kimia teraduk di udara. Sekian lama menghirup udara seperti itu jelas mendatangkan masalah. “Anak-anak di sini punya masalah kesehatan serius.” Penelitian tim dari Ghana dan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang kurang-lebih serupa dengan Guiyu di China: darah warga Agbogbloshie tercemar timbal di atas batas normal.

Potret muram seperti Agbogbloshie terjadi pula di Sangrampur, desa kecil di pinggiran Kolkata, dan Krishna Vihar, Delhi. Baru pekan lalu, dua peneliti India, Rashmi Makkar dan Sirajuddin Ahmed, mempublikasikan hasil penelitian mereka soal pencemaran air tanah di Krishna Vihar di jurnal Current Science. Menurut Rashmi dan Sirajuddin, air tanah di kampung itu sama sekali tak layak minum lantaran mengandung logam berat timbal jauh di atas batas normal.

Di kampung-kampung kumuh, tempat pengolahan sampah elektronik dilakukan secara manual dengan cara-cara jauh dari aman, limbah elektronik bak simalakama. Barang ini mendatangkan uang dan pekerjaan, tapi sekaligus racun. Bagi Attero Recycling, perusahaan yang didirikan Gupta bersaudara, Rohan dan Nitin, sampah elektronik adalah potensi fulus yang masih terus tumbuh.

India merupakan salah satu penghasil sampah elektronik terbesar di dunia. Dan jumlah sampah elektronik di Negeri Bollywood, melihat tren penjualan ponsel, sepertinya tak akan turun dalam jangka panjang. Di pabrik mereka di Kota Roorkee, Negara Bagian Uttarakhand, India, Attero ‘menambang’ emas dan logam-logam berharga lain dari 1.000 ton sampah elektronik per bulan. Mereka siap berekspansi ke Meksiko dan Irlandia. “Jika bisa membuat ekosistem dan teknologi yang tepat, kami bisa membangun bisnis yang besar,” kata Rohan kepada Quartz.


ngan dengan banyak sekali masalah.

 

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *